SAWAI, Surga
Tersembunyi Pulau Seram
Mendengar kata
Pulau Seram di Maluku Tengah, yang terpikir pertama kali mungkin 'ada apa di
sana?' Selain nama pulaunya yang cukup 'seram', ingatan kerusuhan Ambon menjadi
kekhawatiran berikutnya. Namun, saat kami mendarat di Bandara Pattimura, Ambon,
kerisauan itu sirna. Ambon tidak pernah mengecewakan dalam hal pesona alamnya
yang rancak.
Belum habis
mengagumi alam Ambon, kami harus segera menuju Pelabuhan Tulehu untuk menuju ke
Pulau Seram. Lokasi utama pendaratan kami: Sawai. Surga kecil yang berada di
utara Seram. Dengan menempuh perjalanan bak Indiana Jones karena harus berganti
perahu cepat, mobil minibus, dan perahu nelayan, dengan total durasi sekitar
empat jam, akhirnya kami sampai di Horale. Desa ini menjadi daratan terakhir
yang kami injak sebelum menuju Sawai.
Saya sudah tidak
peduli dengan bisingnya suara perahu nelayan kecil itu. Saya sudah terlalu
sibuk mengagumi rentangan bukit yang berbaris memandu kami menuju Sawai. Warna
air laut yang bergradasi sempurna, mulai dari putih hingga biru gelap, menjadi
"alas" berikutnya.
Hanya 30 menit
perjalanan, kami akhirnya sampai di Sawai, desa nelayan kecil yang didekap
rimbunnya Bukit Sawai. Kami bermalam di Penginapan Lisar milik Pak Ali dan
istrinya, Salwa.
Besoknya, kami isi
dengan snorkeling di Hatu Supung (batu yang licin, gundul,
dalam bahasa lokal). Jika dilihat sekilas, lokasi ini mirip Ha Long Bay yang
ada di Vietnam. Hanya saja jika di Ha Long Bay berbentuk batu raksasa yang
berdiri sendiri, Hatu Supung masih bersatu dengan bukit sekitarnya.
Snorkeling di sini seperti melihat ke dalam kaca
karena beningnya air yang ada. Koral berbagai warna juga berkumpul di sini.
Tapi hati-hati, bagi Anda yang kurang pandai berenang, jangan sampai terbawa ke
perairan dalam yang hanya berjarak lima meter dari bibir pantai.
Kegiatan berikutnya
melongok Pulau Raja atau yang disebut Pulau Marsegu (kelelawar) oleh warga
sekitar. Tadinya ini adalah pulau yang digunakan oleh raja dan keluarganya
untuk perkebunan. Tapi sekarang sudah beralih fungsi jadi lahan konservasi
mangrove dan habitat kelelawar yang ada di dalamnya.
Namun, yang menjadi
obyek wisata kami adalah Morite Forest Canopy Platform. Wisata menaiki pohon
kayu besi setinggi 45 meter dari atas tanah di hutan Morite. Untuk menuju pohon
yang dituju, kami harus melakukan perjalanan darat sekitar 45 menit yang
terbagi di jalan aspal dan jalan hutan.
Sesampainya di kaki
pohon besi, para pemandu lokal yang berjumlah delapan orang menyiapkan
peralatan standar untuk Single Rope Techniques (SRT). Masing-masing dari kami
akan ditarik ke atas pohon untuk selanjutnya bersantai di platform yang
dibangun dengan biaya Rp 20 juta itu. Di atas sini, kami bisa melihat Taman
Nasional Manusela, melihat burung mata merah, betet kelapa, burung kakak tua,
bahkan melihat burung rangkong secara sekilas.
Diam sesaat di atas
platform, menikmati alam, dan mengingat kembali kegiatan kami hari itu. rasanya
memang pantas jika Sawai disebut sebagai surga tersembunyi-nya Pulau
Seram. (Zika Zakiya)
Sumber :
Editor :
I Made Asdhiana
sumber: http://travel.kompas.com/read/2012/12/24/12222244/Sawai.Surga.Tersembunyi.Pulau.Seram
Tidak ada komentar:
Posting Komentar